JAKARTA, Klik9.co.id — Kabar duka itu datang seperti senyap yang menembus kesadaran kita: Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, seorang prajurit, pemimpin, dan negarawan, telah berpulang ke Rahmatullah.
Kepergian beliau bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa yang pernah merasakan dedikasi panjangnya dalam pengabdian dari medan tugas militer hingga panggung kenegaraan.
Hari ini, duka tidak hanya menyelimuti, tetapi juga mengingatkan: bahwa setinggi apa pun jabatan, sepanjang apa pun pengabdian, setiap jiwa akan kembali kepada Sang Pemilik kehidupan.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Kullu nafsin dzā’iqatul maut.”
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.(QS. Ali Imran: 185)
Jejak Pengabdian: Dari Prajurit Hingga Wakil Presiden
Semasa hidupnya, Try Sutrisno dikenal sebagai sosok yang tumbuh dari kedisiplinan militer dan menempa dirinya dalam berbagai medan pengabdian.
Perjalanan panjangnya dimulai sebagai prajurit TNI yang menapaki jenjang kepemimpinan dengan reputasi keteguhan dan loyalitas terhadap negara.
Beliau pernah mengemban berbagai amanah strategis, hingga mencapai puncak sebagai: Panglima ABRI, dan Wakil Presiden Republik Indonesia (1993–1998)
Dalam berbagai fase sejarah bangsa, Try Sutrisno hadir bukan sebagai tokoh yang mencari sorotan, tetapi sebagai figur yang bekerja dalam sunyi — menjaga stabilitas, mengawal negara, dan mengemban tanggung jawab di masa-masa penting perjalanan Indonesia.
Kini, semua jabatan itu telah selesai. Yang tersisa adalah amal, niat, dan jejak kebaikan.
Kematian Adalah Kepulangan, Bukan Akhir
Dalam pandangan Islam, wafatnya seorang hamba bukanlah penutup perjalanan, tetapi gerbang menuju kehidupan abadi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”(HR. Muslim)
Hadis ini memberi harapan: bahwa pengabdian, keputusan, dan kebaikan yang pernah beliau tanamkan semasa hidup dapat terus mengalir sebagai amal jariyah.
Hari ini, doa menjadi penghormatan tertinggi yang dapat kita panjatkan:
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya bersama orang-orang beriman.
Ujian Kesabaran bagi yang Ditinggalkan
Bagi keluarga, sahabat, dan bangsa, duka ini adalah ujian kesabaran.
Allah SWT berfirman:
“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah berkata: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”(QS. Al-Baqarah: 155–156)
Ucapan ini bukan sekadar tradisi, tetapi pengakuan bahwa semua berasal dari Allah — dan kepada-Nya pula kembali.
Doa dan Harapan
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah lalu ia mengucapkan: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… kecuali Allah akan memberi pahala atas musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.”(HR. Muslim)
Kepergian Try Sutrisno hari ini menjadi pengingat bagi kita semua:
Bahwa kehidupan adalah amanah. Bahwa jabatan adalah titipan. Dan bahwa kematian adalah kepastian. Selamat jalan, Jenderal.
Semoga husnul khatimah menjadi penutup perjalanan dunia beliau. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin. (Red/Tim)












