SURABAYA, Klik9.co.id – Kawasan perumahan Wiguna Gununganyar, Surabaya pada H+1 Lebaran 2026, Minggu malam (22/3) terlihat lengang setelah ditinggal sebagian penghuninya pulang mudik ke kampung halaman masing-masing. Demikian halnya ruko-ruko dan PKL yang biasa mangkal menjajakan aneka kuliner juga turun hingga 70 persen.
Dari pantauan awak media, terlihat penjual sate, martabak, dan nasi goreng. Untuk minimarket modern tetap buka seperti biasanya. Hanya pada saat salat Ied kompak buka sekitar jam 10.00 WIB. Kemungkinan pihak toko memberikan kesempatan karyawan merayakan sejenak Lebaran Idul Fitri 1447 H bersama keluarga dekat.
Pada malam itu, kebetulan awak media, sekaligus mengecek harga-harga kebutuhan. Seperti saat pagi hari ke pasar tumpah Medokan Ayu, diketahui harga sayuran dan komoditas pokok bahan pangan melonjak 100 persen. Misalnya cabai biasanya didapat harga Rp5 ribu, namun kali ini membelinya 10 ribu. Begitu juga dengan bawang putih, seikat sayur kangkung, lauk cecek (kulit sapi), dan sebagainya.
“Biasaya saya belanja ini sayuran dan lauk Rp50 ribu, tapi sekarang bayar Rp98 ribu, hampir seratus persen naiknya. Semoga harga-harga cepat pulih, karena sangat memberatkan ekonomi,” kata sumber di pasar pagi harinya.
Kembali ke pantauan malam hari di komplek Wiguna. Untuk kuliner seperti sate, naiknya hanya 20 persen. Dari harga biasanya 10 tusuk Rp14 ribu, menjadi 17 ribu. Sedangkan obat-obatan di apotek tidak ada kenaikan. “Alhamdulillah ada apotek terdekat masih buka. Karena cuaca ektrem saat Lebaran ini, kesehatan menurun. Dan harga tetap sama,” tutur sumber di Wiguna.
Sementara sedang viral istilah Surabaya dijaga pemain inti. Maksudnya kaum urban saat ini memang sedang pulang mudik. Sehingga suasana lengang membuat kota metropolitan ini mirip pedesaan. Apalagi usai hujan juga lampu-lampu jalan redup dan sebagian mati. Tidak tahu sengaja dari PLN atau faktor cuaca. (harun)












