banner
banner

Tradisi Ramadan Ngabuburit Berburu Menu Takjil di Rungkut Lor

Tersedia Jajanan dan Makanan hingga Pernak-pernik Ramadan

Tradisi Ramadan
Suasana bazar tradisi Ramadan di depan Gang 1-A Rungkut Lor, Kalirungkut, Surabaya. (KS/Harun)
banner

SURABAYA, Klik9.co.id – Tak terasa 1 Ramadan 1447  telah hadir di tahun 2026 ini, artinya tradisi bulan suci menjelang waktu berbuka. Pemerintah mengumumkan awal ibadah puasa wajib jatuh pada hari, Kamis (19/2) kemarin.

Salah satu tradisi Ramadan yang terus terjaga adalah ngabuburit, di mana banyak warga keluar rumah untuk berburu menu-menu takjil mulai jajanan hingga makanan utama ke bazar-bazar Ramadan terdekat rumah.

Kendati demikian, ada juga warga yang jauh dari tempat tinggalnya, jauh-jauh khusus datang ke kampung lain yang ramai bazar Ramadan. Di antaranya Kampung Kue Rungkut, terpantau di sepanjang 1 kilometer Jalan Rungkut Asri berbatasan kampung dan perumahan YKP penuh oleh penjual kuliner ‘dadakan’ dan pemburu takjil.

Example 300x600

Tak ketinggalan, juga para pegiat UMKM kuliner yang sudah berjualan sehari-harinya menambah semarak tradisi ngabuburit setiap bulan suci Ramadan.

READ  Geger FIF Mojokerto Lelang Unit Nasabah, SOP Dipertanyakan?

Segala macam gorengan, jajanan kekinian, makanan cepat saji, lauk tradisional, hingga pernak-pernik Ramadan lengkap bisa ditemui di sini. Namanya juga suasana ngabuburit, meski sekedar melihat-lihat saja itu sudah menghibur mata dan suasana hati.

Apalagi tampak jelas wajah-wajah sumgringah baik penjual dan pembeli. Karena menjelang waktu Maghrib, semuanya juga kebanyakan sudah mandi dan bersolek. Ini menambah segar suasana sore yang cerah.

Kegiatan bazar Ramadan ini umumnya berlangsung hingga pekan ketiga bulan puasa. Tentunya menjadi ladang insidentil bagi masyarakat untuk menjaga denyut ekonomi keluarga. Sebab sudah kebiasaan pada bulan ini harga-harga komoditas melambung tinggi.

READ  Bebek Mangrove Terima Order 40 Bungkus untuk Yasin Tahlil

Sehingga adanya tradisi ini, setidaknya telah membantu menjaga stabilitas ekonomi. Jadi jangan sia-siakan tradisi ini, karena selain membantu untuk memperkuat silaturahmi, juga sarana mendongkrak ekonomi masyarakat. (red)

banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page