SURABAYA, Klik9.co.id – Pasutri Firman Marsudi (41) dan Sri Mindarti (44) sedikit dari jutaan warga Kota Surabaya yang berani memenangkan peluang. Betapa tidak, keduanya nekat meninggalkan pekerjaan mapan demi menekuni kuliner jualan jus buah The Juice 99. Namun siapa sangka kini omzetnya mencapai puluhan juta rupiah.
Tak hanya itu, bisnis kuliner jenis minuman jus buah yang mereka rintis sejak 2010 tersebut, saat ini juga telah mempekerjakan 20 karyawan. Hebatnya kebanyakan warga ber-KTP Surabaya. Sehingga secara tidak langsung The Juice 99 ikut membuka lapangan kerja sekaligus membantu pendapatan asli daerah (PAD).
“Awalnya istri resign kerja terus mencoba jualan es jus pakai rombong di depan rumah Jalan Kutisari, tapi agak ke Selatan. Berjalan waktu ramai pelanggan, kemudian mencari tempat baru di sini (Jalan Kutisari Utara),” terang Firman Marsudi saat ditemui awak media, Jumat sore (17/4/2026).
Alasan pindah saat ramai pembeli banyak parkir motor mengganggu pelintas jalan lainnya. Karena makan minumnya nongkrong lesehan di pinggir jalan. “Suka duka di awal berjualan masih istri dibantu dua orang pekerja, kalau ramai banyak yang komplain proses lama,” ungkap bapak siswa yang duduk di bangku kelas 12 SMA ini.
Jualan jusnya terus berkembang, sekitar sebelum pandemi Covid19, Firman mulai memiliki keberanian menyusul istrinya resign dari tempat dia bekerja dengan gaji mapan. “Karena buah itu kan harus belanja sana sini, nah istri nggak ngatasi,” ujar Arek Kutisari ini.
Awal-awal banyak saingan yang jualan kuliner es jus buah. Tapi namanya rezeki rahasia Ilahi. Firman mulai menghitung-hitung empat tahun lalu. “Artinya cukup untuk kebutuhan keluarga, akhirnya kita seriusi,” jelasnya.
Untuk memastikan kondisi buah pesanan, dia langsung datang ke penjual, alasannya sederhana, bahwa kalau pesan itu kadang dikirim yang jelek. “Jadi datang langsung, kita pilih, baru sebagian dibawa sendiri, dan sebagian minta dikirim,” ungkapnya.
Semula kulakan buah di Wonokromo, namun seiring waktu semakin besar, dia pun pindah ke Tanjungsari. Di sini intensitas kulakan 2-3 hari. “Saat pandemi, omzet tidak turun signifikan. Karena orang butuh makan minum terutama untuk meningkatkan imunitas, kendalanya hanya isolasi. Sehingga ketat keluar masuk orang,” beber Firman.
Dari Jualan Pakai Rombong di Depan Rumah Kini Punya Cabang
Pindah dari depan rumahnya ke Kutisari Utara, sekitar sembilan tahun lalu dari jualan memakai rombong kuliner jus buah. Usaha The Juice 99 semakin diserbu pelanggan hingga muncul ide untuk membuka cabang. Inspirasinya terbilang unik, yakni untuk mendekati pelanggan dan dekat kulakan buah.
Cabang pertama The Juice 99 di Manukan setahun berjalan. Waktu itu ditemani istrinya, dia menyusuri keramaian. “Dekat lokasi kulakan di Tanjungsari. Dilihat cukup ramai. Makanya menyewa tempat di situ,” katanya.
Selanjutnya cabang kedua baru berjalan lima bulanan. “MERR Rungkut itu, karena melihat grafik order ojol, banyak permintaan pelanggan dari sini itu 40 persen. Karena kalau langsung ke Kutisari antre banget,” paparnya.
Sedangkan cabang ketiga di Tambakrejo Waru Sidoarjo, tutup sementara, terkendala kekurangan pegawai. “Untuk pelanggan rata-rata paling banyak 150-300 orang per outlet. Kalau di Kutisari lebih 300 orang,” katanya.
Firman menilai usahanya jalan bertahan karena teman-teman karyawan. Sedangkan dia berpikir membuat menu yang menarik untuk berkembangnya outlet. Kalau besaran omzet cukup untuk gaji karyawan, juga operasional toko.
“Awal menu fokus jus, lalu inovasi bahan yang ada, seperti es teler, itu kan bahan buah, ditambah varian cao, jadi es teler, es campur, kalau kayak sarang burung ide sendiri. Lewat trial, kalau disukai pelanggan diteruskan. Untuk inovasi itu istri, juga ambil referensi teman, saran kustomer. Dan saat ini total ada 50 menu,” urainya.
Risiko Banyak Menu sampai Kiat Meminimalisir Kerugian
Lebih lanjut, Firman menjelaskan, bahwa stok buah itu tidak bisa bertahan lama. Menurutnya, kesulitannya berjualan es jus, yaitu bagaimana mempertahankan agar buah kondisi fresh. “Kalau sudah tidak fresh, tidak dipakai. Makanya kalau hampir rusak itu kita sedekahkan Jumat berkah bentuk minuman,” terangnya.
Karena itu, pihaknya teliti mengatur stok rata-rata, misalnya alpukat termasuk favorit, sehingga sehari harus ada 100 kilo masak. Stoknya seminggu 1-1,5 ton. Setiap hari harus ada yang matang. Sementara suplai alpukat dari temannya di Probolinggo dan Malang.
Pengalaman sebelum kerja ikut swasta, Firman muda sempat membantu pamannya ikut mengkulak aneka buah langsung dari petani. Sehingga dia belajar mangga, melon, buah ekspor juga. Makanya tahu mangga bagus, misalkan dari Bangil Pasuruan, sedikit banyak memahami karakter buah.
Dia juga sangat memahami kebanyakan obat pestisida, misalnya pisang disemprot biar cepat masak. Makanya Firman membeli buah dibiarkan masak alami. “Jus ini kita menjaga tidak masak pakai kimia. Memang dari daerah petikan masih keras. Mainnya alpukat itu disemprot pakai air bisa cepat matang. Supaya masaknya alami,” katanya.
Menjaga Kualitas Buah Kondisi Segar Tanpa Obat
Kalau orang lain mungkin, karena terdesak kebutuhan, biasanya malam disemprot obat, besoknya sudah masak. Nah ini yang ia jaga di usaha The Juice 99 ini. Yakni betul-betul menjaga kualitas buah.
“Risikonya memang keuntungan tidak banyak. Karena dari saya sendiri kepengin memanusiakan manusia. Misalnya kalau padi itu siap panen tiga bulan sekali, itu sudah pakai obat. Zaman dulu, padi tidak pakai obat, panen setahun hanya sekali, dua kali. Kalau sekarang bisa empat kali, ini sudah obat. Contoh lagi, ayam, itu 30 hari sudah kelihatan tua, juga pakai obat,” tandasnya.
Makanya, ia memiliki harapan untuk menjaga kesehatan, panjang umur, agar masyarakat yang mengkonsumsi produk jus buahnya tidak signifikan masalah kimia. “Berawal konsumsi saya dan keluarga sendiri. Sehingga kualitas buah dan bahan, betul-betul kami jaga,” tegasnya.
Target Ekspansi Membuka Cabang Outlet
Berbicara target ke depannya, Firman ingin ekspansi membuka cabang-cabang baru, guna terus mendekati pelanggannya.
Soal banyak komplain karena lama, dia mengaku bukan lambat, karena buahnya fresh. Kondisi harus dikupas dulu. “Kayak apel itu oksidasi menghitam, buah-buahan impor itu kalau dikupas dulu bisa menghitam semua, juga tidak baik buat dikonsumsi. Makanya kita utuh, kalau ada orang beli baru dikupas,” ujarnya.
Sehingga agak lama, karena prosesnya begitu, sambung Firman. “Konsumen komplain kok lama antrenya sampai 30 menit. Sementara antrean bisa sampai delapan orang,” ucapnya.
Kalau lika-liku lain, yaitu kendala SOP karyawan. Karena banyaknya menu, makanya satu karyawan training bisa lama. “Kalau daya ingatnya kurang bisa salah, terus pelanggan komplain, nah itu tanggung jawab dia. Supaya dalam bekerja juga berhati-hati. Wajib ganti. Timbal baliknya supaya fokus,” jelasnya.
Menutup diskusi, Firman juga mengimbau kepada masyarakat, bahwa konsumsi buah itu penting. “Kalau mungkin malas mengupas. Opsinya minum jus, bisa jadi gaya hidup sehat. Karena tubuh kita butuh serat, dari buah dan sayuran, sangat dianjurkan. Mungkin nggak sempat konsumsi buah kupas, malas atau gimana, itu alternatif bisa minum jus,” pungkasnya.
Dan dari pantauan awak media, di semua otlet memang diserbu pelanggan. Bukan tanpa alasan. Sebab selain tempat memadai, juga mulai citarasa hingga kekentalan isi buah, ditambah lagi harga relatif murah. Ini menjadi daya tarik kuat menyedot banyaknya pelanggan. (Adv/Harun)





















