KOTA MOJOKERTO, Klik9.co.id – Bagaimana awal daerah di Jawa Timur yang sarat sejarah megah Kerajaan Majapahit ini justru mempunyai julukan khas Kota Onde-onde. Apa bukan seharusnya seperti Yogyakarta dan Surakarta yang sama-sama kental tradisi keraton?
Unik memang Mojokerto ini dengan sejarah panjang Kerajaan Majapahit yang perkasa seantero dunia, tepai lebih kuat julukan khas Kota Onde-onde daripada mendapatkan predikat Kota Raja. Meski terus menggaungkan jargon Spirit of Majapahit.
Bahkan jejak-jejak tradisinya entah kemana, mirip tanah tak bertuan yang ditinggal begitu saja oleh empunya. Mungkinkah yang tersisa hanya temuan-temuan bekas pondasi kerajaan maupun candi hasil galian warga yang tidak disengaja?
Apakah benar tidak diketahui pasti keturunan kerajaan yang tersisa. Hal ini bisa jadi benar cerita Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta adalah garis terakhir kerajaan di nusantara yang dimulai dari Ken Arok dan Ken Dedes di Tumapel Malang.
Faktanya nama Boliem juga menguatkan julukan khas Mojokerto sebagai Kota Onde-onde. Bisnis keluarga yang pertama berdiri tahun 1929 di Jalan Niaga ini didirikan oleh kakek Bo Liem.
“Kalau sekarang dikelola oleh generasi ketiga, yakni cucu-cucunya. Jadi kita sudah independen, sendiri-sendiri,” kata Elly Christiana selaku owner toko oleh-oleh khas Mojokerto di Jalan Empunala, Kota Mojokerto ini, Senin (13/4/2026).
Dia mengaku kalau onde-onde di tokonya termasuk mahal untuk ukuran kota kecil. Hal ini semata-mata untuk mempertahankan resep bertahun-tahun. “Untuk onde-onde saya memang harganya lebih mahal, tapi mempertahankan kualitasnya, bahan-bahan kita memang impor,” terang perempuan ramah ini.
Oleh karenanya, Elly berani menjamin kualitas nomor satu. “Jadi rasanya pun juga berbeda, seperti itu,” tuturnya.
Diketahui, buka toko dari jam 6.30 sampai 18.00 WIB. “Onde-onde siap, gorengan yang pertama jam 7 pagi. Kita buka setiap hari. Cuma H+10 setelah Lebaran, tutup dua hari. Setelah itu buka terus,” jelasnya.
Selanjutnya untuk menu unggulan, onde-onde varian original kacang hijau Rp64k, dan varian rasa campur keju, coklat, taro, durian, pisang Rp69k. “Dua varian ini selalu ready. Tapi kalau mau request, bisa pesan dulu beberapa jam sebelumnya,” ujarnya.
Masih Elly, terkait pelanggan yang mampir di tokonya ada pengunjung dari luar negeri. “Terkadang juga dibawa untuk oleh-oleh sampai luar negeri,” pungkas Elly.
Tergolong kue basah, tidak hanya menjual onde-onde, toko oleh-oleh miliknya itu, juga menjual aneka olahan UMKM. Sehingga tidak ada ruginya untuk mampir, saat singgah di daerah yang lagi getol-getolnya membangun tata kota bernuansa keagungan Majapahit ini. (Harun)





















