Klik9.co.id – Produk inovasi obat herbal anti kanker Androma resmi mengantongi izin edar dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya. Serah terima sertifikat POM TR 263003381 ini, sekaligus menandai launching Androma dengan potong tumpeng di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jumat pagi (6/2/2026).
Produk herbal Androma merupakan hasil riset panjang yang berawal dari penelitian disertasi S3 Profesor Dr Apt Sukardiman MS. Sekitar 1993 Unair bekerja sama dengan Frankfurt University mengadakan riset etnomedisin di Maumere selama dua bulan di November.
“Waktu itu menemukan kandidat obat herbal sambiloto, sekaligus kami gunakan sebagai penelitian disertasi S3, dengan dana penelitian RUT,” terang Prof Sukardiman usai acara peresmian di Ruang KBK Farfit, Lantai 3 Gedung Nanizar, Kampus C Unair.
Prof Sukardiman yang juga Ketua Riset Center Etnomedisin dan Pengembangan Obat Tradisional (RC E-itMed) Fakultas Farmasi Unair, menjelaskan formula ekstrak sambiloto dikombinasikan dengan ekstrak kunyit. Sehingga nama ini, dia akronimkan dari nama latinnya, Andrographis Paniculata dan Curcuma Domestica, disingkat Androma.
“Dua kombinasi ekstrak terstandar dari sambiloto dan kunyit untuk efek sinergisme, potensiasi yang harapannya membedakan dari produk lain,” jelasnya.
Menurutnya produk herbal ini, sudah dilakukan riset, mulai bahan baku dan standarisasinya. Kemudian juga sudah dilakukan uji praklinik, uji in vitro. Lalu ada juga uji in vivo pada kanker kolon, supaya bisa kita melihat aktivitasnya.
“Sebetulnya produk kapsul ini, juga dua campuran ekstrak sambiloto dan kunyit, telah dilakukan uji klinis pada kanker payudara di RSUD dr Soetomo tahun 2012 silam,” ungkapnya.
Namun karena regulasi Badan POM sering berubah, makanya mendaftarkan saat ini, sementara menggunakan status jamu. “Tetapi harapannya indikasi status ini, karena masih jamu, bisa membantu meningkatkan kesehatan penderita atau pasien kanker,” katanya.
Lantas pertanyaannya, lanjut Sukardiman, kanker apa saja yang bisa dibantu penyembuhan? Ditingkatkan derajat kesehatannya, sehingga punya survival life yang lebih tinggi. Tentu bisa dipakai segala jenis kanker yang ada, walaupun uji klinis yang pernah dilakukan pada kanker payudara. Tetapi juga bisa diberikan kepada penderita kanker lainnya.
“Tapi sesungguhnya produk herbal ini lebih banyak untuk pencegahan. Seseorang sebelum menderita kanker, tidak ada salahnya ketika mengonsumsi Androma ini. Dengan dosis yang diturunkan. Kalau pengobatan sehari tiga kali, 1-2 kapsul. Tapi kalau untuk pencegahan sehari hanya dua kapsul saja, pagi dan malam hari,” ujarnya.
Mengenai efek samping, dikatakannya 100 persen relatif kecil, bahkan nyaris tidak ada, karena ini produk herbal. “Untuk mendapatkan produk ini, secepatnya akan melakukan komunikasi dengan mitra terkait pemasaran. Kebetulan Manager Marketing-nya anak sendiri, bukan kita KKN ya, yang memiliki PT Global Ritel, yang ada di Bandung,” bebernya.
Karenanya, pihaknya segera merilis di marketplace, bisa di Shopee, Tokopedia, atau juga mitra apotek di Surabaya maupun daerah lain di Jawa Timur, bekerja sama dengan alumni Farmasi Unair di seluruh Indonesia (ALFAS).
“Harapannya nanti seluruh masyarakat di Indonesia bisa mendapatkan produk Androma yang sudah melalui uji klinis secara komprehensif, praklinik sudah menggunakan animal model, toksisitasnya juga sudah kita uji. Dan tentu sudah ada data dukung terkait dengan uji klinikal trial. Walaupun sementara mendaftarkan masih menggunakan TR, artinya statusnya jamu,” urai Prof Sukardiman.
Kendati demikian, back-up untuk data dukung penelitiannya insyaallah katanya lengkap semuanya. “Mohon doanya mudah-mudahan tidak lama lagi kita sudah transformasi jamu Androma menjadi minimal menjadi obat herbal berstandar terlebih dahulu. Baru kita akan jadikan produk Fitofarmaka dengan kerja sama klinikal trial di RS Universitas Airlangga. Mohon support dan dukungan,” tandasnya.
Sukardiman juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua anggota peneliti, mahasiswa bimbingan, CV Sedayu Agro Industri Yogyakarta, juga Civitas Akademika Universitas Airlangga.
Sejumlah tamu VIP ikut hadir mengikuti jalannya launching. Antara lain sebagai berikut:
- Wakil Dekan 1 Fakultas Farmasi, Prof Helmy Yusuf;
- Wakil Dekan Fakultas Farmasi, Dr Elida Zaitina;
- Kepala BBPOM di Surabaya diwakili Katim Sertifikasi, Siti Nurkolina SSi Apt PFM Ahli Madya, dan Irma Rahmawati SFarm Apt;
- Kepala BBPOM Kediri Winanto SSi Apt MSi;
- Dekan Fakultas Farmasi Universitas STRADA Indonesia Kediri, Sri Rahayu Dwi Purnaningtyas SSi MKes Apt;
- Wakil Dekan 3 Fakultas Farmasi UHT Surabaya, Dr Yanu Indiarto SSi APt MFarm;
- Ketua PUIPT Kosmetik, Ketua RG di Fakultas Farmasi;
- Anggota Pusat Riset Etnomedisin dan Pengembangan Obat Tradisional Fakultas Farmasi Unair;
- Ketua Departemen di Fakultas Farmasi;
- Mahasiswa S1, S2 dan S3 peminatan Tugas Akhir KBK Farmakognosi – Fitokimia
Prosedur Uji Klinis Sertifikasi BBPOM Tahapannya Sama
Dalam kesempatan itu, mewakili Kepala BBPOM di Surabaya, Siti Nurkolina mengaku sangat mendukung peluncuran Androma. Karena menunjukkan perkembangan perguruan tinggi. “Program ini namanya hilirisasi, jadi pencapaian yang luar biasa, hasil riset ternyata bisa ditingkatkan menjadi produk komersil bernilai ekonomi tinggi,” tuturnya.
Selain itu, produk Androma ini juga mendukung sistem kesehatan nasional, bahkan internasional. Karena produk anti kanker memang sangat dibutuhkan pada era sekarang. Supaya ketersediaan dan keterjangkauan obat-obatan tradisional dalam mendukung kesehatan nasional juga bisa terpenuhi.
“Prosedur uji klinis untuk mendapatkan sertifikasi BBPOM antara produk dari hasil riset akademik ataupun dari pelaku usaha medis melalui tahapan yang sama. Standar yang dilakukan juga sama,” terangnya.
Rekannya, Irma Rahmawati menambahkan, adanya obat herbal anti kanker ini, juga sebagai alternatif obat-obatan berbahan kimia. Dari sisi keamanan karena berbahan alami, maka efek sampingnya juga minimal. Harapan dia seperti itu.
Oleh karena itu, BBPOM apresiasi setinggi-tingginya launching obat herbal Androma ini, karena bisa menjadi terapi alternatif bagi penderita kanker. “Mungkin saat ini dengan obat berbahan kimia itu harganya relatif mahal. Kalau dari obat tradisional, disamping dari harga juga terjangkau, dan efek samping yang ditimbulkan lebih bisa ditekan,” timpalnya.
Selanjutnya, BBPOM berharap Androma ini membuka inovasi berikutnya yang dilakukan oleh pusat riset Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. “Sinergi akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam hal ini BBPOM juga terus terjalin semakin kuat ke depannya,” sambung Nurkolina.
Tridharma Perguruan Tinggi Itu Bernama Androma
Di sisi lain, Wakil Dekan Prof Helmy Yusuf menyebutkan, kalau dari sisi akademik ada tanggung jawab tridharma. Yaitu melakukan fungsi pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Nah, dari tridharma ini, yang paling bisa terasa manfaatnya kalau sampai menghasilkan produk hasil penelitian yang bisa dirasakan oleh masyarakat. “Tentunya dengan Androma ini, kegiatan riset di kampus tidak hanya teoritis, tetapi juga langsung ke dunia nyata berupa produk yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tuturnya.
Dia menegaskan perbedaan nyata produk yang beredar di masyarakat itu daya dukung ilmiahnya sangat minim. Makanya masyarakat lebih percaya dengan produk seperti Androma ini, karena semua hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Harapannya paling tidak pengembangan produk itu bisa dihasilkan oleh sinergi antara akademisi, pemerintah, dan sektor industri untuk menghasilkan inovasi yang bisa dirasakan oleh masyarakat Ke depan kami juga berharap makin banyak inovasi hasil penelitian lainnya, yang bisa terinspirasi membuat karya yang lebih hebat lagi,” tandasnya. (ads/cnt)











