Klik9.co.id – Tim TK Al Hikmah harus angkat koper lebih cepat pada turnamen futsal antar TK se-Jawa Timur di Aula Lantai 3 di SD Al Hikmah, Gayungsari, Surabaya, Sabtu pagi (7/2/2026). Skornya kalah meyakinkan, 0-4 (0-0) dari lawannya.
Jalannya pertandingan 2×5 menit itu di babak pertama TK Al Hikmah terpaksa bermain bertahan. Ini karena lawan bermain langsung menyerang. Hampir semua pemain lawan mempunyai kemampuan dribbling dan pressing, juga sering menendang ke gawang.
Pertahanan Al Hikmah dibuat kocar-kacir, sehingga Javier dkk hanya bisa bertahan penuh. Bahkan Zaidan juga sering turun jauh ke bawah. Kemudian ditambah teriakan dukungan para orang tua, juga menambah tinggi atmosfer pertandingan.
Singkatnya permainan berlangsung sengit dan seru!!! Hingga di babak pertama berakhir dengan skor kacamata, 0-0.
TK Al Hikmah mencoba mengutak-atik taktik, karena hanya diperkuat enam pemain tiap timnya. Salah satunya mengganti penjaga gawang.
Namun di babak kedua, mungkin tekanan atmosfer, pertama ikut lomba, jadinya permainan menurun, alih-alih kerap menendang ke arah gawang sendiri, sehingga menguntungkan lawan untuk merubah skor 0-1, membuat TK Al Hikmah tertinggal.
Permainan kembali dilanjutkan. Namun kali ini terjadi keputusan ‘aneh’ dari wasit yang disebut-sebut MC asal Persekabpas Pasuruan, peserta Liga 3 Indonesia. Di saat berjuang menyamakan kedudukan, sebuah tendangan ke dalam oleh wasit gol disahkan.
Tak kalah fokusnya, staf pelatih TK Al Hikmah protes keras! Bagaimana bisa, tendangan ke dalam gol disahkan, tanya pelatih. Tetapi wasit dengan ‘entengnya’ menjawab. “Peraturan baru?,” katanya.
Saat pertandingan kembali dilanjutkan, konsentrasi para pemain Al Hikmah sudah bubar barisan. Ada yang tidak fokus, ada yang menangis. Ada juga yang terus berjuang sesekali melirik dukungan orang tua di pinggir lapangan. Makin tidak masuk akal, kembali kebobolan lewat tendangan ke dalam kali kedua.
Hal itu menunjukkan kalau tim sedang kehilangan konsentrasi, hingga makin terbenam setelah kemasukan gol keempat.
“Adik-adik mainnya awal-awal disiplin, dan kompak. Secara fisik juga gesit, tidak ada masalah. Kemampuan bermain bola seumuruan TK, juga lumayan, semangat, bisa menendang, dan ada yang juga bisa dribel. Namun ternyata kendala masalah ‘ego’. Ini yang menjadi PR, dan mungkin memerlukan lebih sering kumpul latihan bersama, agar tercipta chemistry,” terang Asisten Pelatih Kahfi deRossi.
Menurutnya, para pemainnya sebenarnya mudah menangkap materi dan instruksi. “Tapi mengendalikan ‘ego’ saat bermain ini, yang perlu sering diasah. Kalau suka tidaknya main bola, kayaknya semuanya senang. Buktinya mereka menangis usai pertandingan. Secara psikologis, artinya mereka merasa bisa menang, makanya kecewa dengan menangis itu. Tapi perlu digarisbawahi, yang terpenting adik-adik bermain senang. Tidak penting kalah menang, karena di usia ini, masa pengenalan dan menanamkan kegembiraan bermain bola,” pungkasnya.
Terpisah, komisi wasit PSSI Surabaya, saat dikonfirmasi mengatakan, tidak ada peraturan baru tendangan ke dalam. “Kalau bola menyentuh pemain lain, gol sah. Tapi kalau langsung, tidak sah,” katanya.
Dengan begitu, keputusan wasit mensahkan gol, sangat merugikan tim TK Al Hikmah. (red)











