SURABAYA, Klik9.co.id – Menyambut kedatangan bulan suci Ramadan, sudah menjadi tradisi umat Islam melakukan ziarah kubur atau nyekar. Sehingga tempat pemakaman umum ramai peziarah.
Para peziarah ini datang tidak hanya dari dalam, tetapi juga luar kota. Pasalnya para pendahulu mereka umumnya dulu juga warga Surabaya.
Hal ini seperti saat media ini mengunjungi Makam Tembok, Surabaya, Senin (16/2/2026) pagi. H-2 puasa Ramadan, sudah banyak para peziarah. Sehingga hal ini menjadi berkah warga sekitar makam.
Ada penjual bunga yang omzetnya naik pesat, bahkan pedagang kaki lima juga menambah ramai kawasan pemakaman Tembok. Tapi sayang, situasi ini, juga menciptakan suasana negatif, banyaknya anak-anak yang meminta-minta sedekah para peziarah.
Belum lagi anak-anak remaja hingga dewasa. Kondisi ini sangat mengganggu ketenangan para peziarah dalam mendoakan ahli kubur. Karena mereka otomatis mengekor, dan meski tidak memaksa, tetap saja menunggu sampai mendapatkan uang imbalan jasa bersih-bersih.
Meski belum mendapat laporan adanya tindak kejahatan, tetapi situasi ini, bagi orang yang baru ke sini, mungkin juga membuat was-was. Notabene anak-anak ini membawa alat potong untuk memangkas rerumputan, tetapi juga khawatir, adalah wajar.
“Mereka tiba-tiba bergerombol dan spontan membersihkan makam. Nah, supaya khusyuk, saya berikan sejumlah uang untuk sekitar 12 dibagi,” terang Cinta, yang alm. Papanya dimakamkan di Tembok. (hrn)













