SURABAYA – Perkembangan dan antusiasme sepak bola putri di Kota Surabaya menunjukkan tren yang sangat positif. Menyusul iklim kompetisi nasional hingga internasional (Asia dan ASEAN) yang kian terbuka, pembinaan pesepak bola putri sejak usia dini terus digencarkan, termasuk tim putri Surabaya Legend.
Pasalnya, tim putri Surabaya Legend menyatakan kesiapannya untuk melangkah lebih jauh dan tampil maksimal mewakili Provinsi Jawa Timur di ajang turnamen tingkat nasional MilkLife di Kudus, Jawa Tengah mendatang.
Yusuf Ekodono, Ketua Surabaya Legend yang juga legenda hidup sepak bola nasional, menyampaikan bahwa pihaknya bersama jajaran pembina dan pelatih berkomitmen penuh untuk menggembleng mental serta stamina para pemain muda khususnya tim putri agar siap bersaing di kancah nasional.
“Tim Putri Surabaya Legend siap mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional MilkLife. Kami optimistis dengan persiapan dan potensi anak-anak,” ujar Coach Yusuf Ekodono, Jumat (30/10/2026) sore di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari.
Dukungan Pemerintah dan Pembinaan Berkelanjutan
Guna menyokong ekosistem sepak bola putri di Kota Pahlawan, Disbudporapar (Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata) Kota Surabaya turut memberikan dukungan penuh melalui diklat dan pembinaan rutin bagi anak-anak usia dini, mulai dari rentang usia 10, 11, 12, hingga 14 tahun.
Yusuf mengungkapkan, pembinaan ini ditangani langsung oleh para pelatih berkompeten yang merupakan mantan pemain sepak bola Surabaya dan mantan pemain Persebaya. Para legenda ini turun gunung untuk membagikan ilmu, pengalaman, serta teknik sepak bola yang benar bagi generasi muda.
Wadah Evaluasi dan Pengembangan Potensi
Nah, sebagai langkah persiapan dan uji tanding (evaluasi pertandingan), anak-anak tim putri selain berlatih, juga rutin diikutsertakan dalam berbagai kompetisi lokal, salah satunya kompetisi Hydro Plus yang diselenggarakan secara berkala di Lapangan Bogowonto, Surabaya setiap hari Minggu pagi.
“Antusiasme anak-anak dan klub-klub lokal di Surabaya sangat bagus. Selain di diklat Disbudporapar sendiri, banyak tim putri lain yang bermunculan seperti Meta, Bulog, Putri Surabaya, Kartini, dan lainnya. Melalui kompetisi berkala, kami dapat mengevaluasi kekurangan tim serta menyaring pemain-pemain muda yang berpotensi,” jelas Yusuf.
Harapan Lahirnya Persebaya Putri
Yusuf berpesan kepada seluruh pesepak bola putri di Surabaya untuk terus semangat berlatih dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia berharap pembinaan yang konsisten ini tidak hanya mengharumkan nama Surabaya dan Jawa Timur di ajang MilkLife Nasional, tetapi juga menjadi cikal bakal terbentuknya skuad Persebaya Putri yang tangguh di masa depan.
“Harapan saya untuk sepak bola putri tetap semangat. Paling tidak nanti dari pembinaan ini, anak-anak bisa melangkah dan mewakili Persebaya Putri,” pungkasnya.
Sementara itu, Sabilillah dari manajemen Surabaya Legend, menegaskan bahwa timnya siap untuk tampil dan mewakili Jawa Timur di Kudus.
“Awal-awal masih dikoordinir Askot Surabaya, wakilnya dari Coach Ridwan Persebaya Putri, latihan di Bulog, terus yang kemarin itu Meta Football, setelah event MilkLife dipegang Asprov Jatim. Dan tahun ini, tim putri Surabaya Legend sangat siap,” tandas Sabilillah.
Berbekal latihan rutin di Stadion Tambaksari, Sabilillah optimis, dengan komposisi pemain-pemain terbaik hasil rekomendasi dari klub-klub di Surabaya, kalau anak-anak didiknya dapat berbicara banyak di kancah nasional nantinya.
“Baru-baru ini tim putri juara Gala Siswa Indonesia (GSI) U-14 regional Jawa Timur. Capaian ini hasil pembinaan berjenjang mulai era Wali Kota Tri Rismaharini,” tukasnya. (har)





























