Klik9.co.id – Wakil Bupati Fauzun Nihayah, bersama Ketua Yayasan South Papua Golden Generation sekaligus Ketua DPC GAMKI Merauke, Pendeta Regina Swabra, terus mendampingi anak-anak korban penyalahgunaan zat adiktif, khususnya lem aibon dan bensin. Pendampingan ini telah dilakukan sejak 2018.
Wakil Bupati mengatakan, perjuangan tersebut dilakukan karena masih banyak anak putus sekolah yang ditemukan menghirup aibon di sejumlah lokasi di Merauke, seperti lapangan Maro, Katapal, kawasan kantor pemda dan Kapsul Waktu. Keterbatasan fasilitas dan anggaran menjadi salah satu kendala dalam proses pendampingan.
Melihat kondisi tersebut, Fauzun dan Regina kembali berkomitmen menyediakan tempat pembinaan bagi anak-anak tersebut. Mereka memperbaiki sebuah bangunan yang sebelumnya rusak parah untuk dijadikan tempat belajar, pembinaan moral serta pendampingan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Regina mengatakan, gerakan tersebut berawal dari kepedulian sosial untuk menyelamatkan anak-anak yang membutuhkan perhatian. Sejak 2018, dirinya terus berusaha menjangkau anak-anak korban aibon hingga akhirnya mendirikan Yayasan South Papua Golden Generation sebagai wadah untuk memperkuat perjuangan tersebut.
Menurut Regina, penyelamatan anak tidak dapat dilakukan seorang diri. Karena itu, pihaknya mendorong kolaborasi berbagai organisasi kepemudaan dan mahasiswa, termasuk GAMKI, HMI, PMII, GMNI dan PMKRI, agar pembinaan terhadap anak-anak dapat dilakukan secara lebih luas.
Fauzun menyebut, sekitar 150 anak telah dijangkau dalam proses pendampingan tersebut. Sebelumnya jumlahnya bahkan pernah mencapai sekitar 180 anak, namun sebagian telah berhasil keluar dari ketergantungan, menikah, maupun menjalani kehidupan yang lebih baik.
Regina mengungkapkan, sejumlah perubahan positif mulai terlihat. Anak-anak yang sebelumnya takut ketika aibon mereka diambil kini mulai terbuka dan bahkan bersedia menyerahkannya kepada para pendamping. Hubungan yang dibangun sebagai sahabat dinilai membantu proses perubahan mereka.
Saat ini pembinaan dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni Senin dan Jumat. Hari Senin difokuskan pada penguatan moral, mental, karakter dan agama, sedangkan Jumat diarahkan pada penguatan akademik seperti membaca dan menulis selama sekitar tiga jam.
Fauzun mengatakan, kepeduliannya terhadap anak korban aibon bermula dari pengalaman pada 2018 ketika menemukan sekitar 15 anak di depan rumahnya pada dini hari dalam kondisi belum makan dan menghirup aibon. Ia mengajak masyarakat dan berbagai pihak untuk ikut melaporkan serta mendampingi anak-anak tersebut. Menurutnya, mereka adalah generasi emas Papua Selatan yang harus diselamatkan bersama. (Adlan)

























